Minggu, 19 Mei 2013

Wawancara Tentang Kurikulum 2013 Dengan Guru SMP


Wartawan : Rachel S. (XC)
Narasumber : Ibu. Oyah (Guru Biologi SMPN 1 Cileunyi)

W         : “Selamat sore, bu. Maaf mengganggu. Bisa saya minta waktu ibu sebentar?”
N          : “Silahkan.”
W         : “Begini, bu. Saya Rachel dari SMAK Yahya. Saya mendapat tugas dari sekolah untuk
                mewawancarai seorang guru berkaitan dengan kurikulum 2013. Bisa saya minta ibu untuk
                menjadi narasumber saya?”
N          : “Tentu saja.”
W         : “Terima kasih sebelumnya, bu. Berkaitan dengan kurikulum 2013 ini, bagaimana pendapat
                Ibu sendiri sebagai guru dengan berubahnya kurikulum?”
N          : “Yah, saya sendiri sih setuju-setuju saja. Perubahan kurikulum ini kan dalam rangka
                meningkatkan kualitas pendidikan di bangsa kita. Bangsa kita ini juga kan mau maju
                seperti bangsa lain. Ya semuanya itu dimulai dari pendidikan anak-anak bangsa yang
                nantinya akan memimpin bangsa ini.”
W         : “Menurut ibu, mengapa kurikulum yang sebelumnya harus diganti dengan kurikulum
                baru?”
N          : “Seiring dengan berkembangnya jaman, IT semakin maju, dan persaingan di dunia kerja
  juga semakin sulit, jadi pak Menteri memutuskan untuk mengganti kurikulum. Yah, seperti
  ibu bilang tadi, ini semua dalam rangka menghasilkan generasi baru yang lebih baik.
  Kalau ada kurikulum yang lebih baik, kenapa yang tidak diganti saja. Begitu kan?”
W         : “Apakah di sekolah tempat ibu mengajar, sudah diadakan sosialisasi tentang pelaksaan
     kurikulum 2013 ini?”
N          : “Sosialisasi sih sudah dilaksanakan. Tapi, sampai saat ini, baru 4 orang guru yang dipanggil.
     Yaitu 2 guru IPS,guru Seni dan Budaya, dan guru Komputer.”
W         : “Bagi ibu pribadi, apakah kendala yang akan dihadapi oleh guru-guru saat kurikulum baru
                 diterapkan?”
N          : “Yang pasti adaptasi dengan perubahan kurikulum. Kurikulum 2013 ini berubah drastis dari
     kurikulum sebelumnya. Selain itu juga, semua guru bidang studi dipaksa menguasai IT. 
    Mungkin bagi guru-guru di kota, hal itu tidak jadi masalah. Tapi bagi kami guru-guru di 
    kabupaten, mungkin butuh pelatihan untuk mendalami IT.”
W         : “Dalam hal pelajaran, apakah ada kendala lain yang sekiranya akan dihadapi?”
N          : “Yang pertama sih karena penambahan jam pelajaran menjadi 5 jam. Sedangkan guru-guru
      SMP harus memenuhi total 24 jam mengajar. Kita guru-guru yang awalnya santai
      sekarang dengan adanya pemberitahuan begitu ya menjadi kelimpungan. Ibu saja sekarang
      akan mulai mengajar di 2 SMP untuk memenuhi total 24 jam mengajar.”
W         : “Apakah ada perubahan dalam bidang studinya, bu?”
N          : “Berubah sih tidak. Tapi, sekarang untuk SMP ada penambahan khusus dalam bidang studi
     tertentu. Misalnya, dalam pelajaran sejarah. Siswa diwajibkan belajar mengenai sejarah
     tempat mereka tinggal dan tempat-tempat wisata yang ada disekitar mereka secara lebih
     mendalam.  Dalam pelajaran Seni dan Budaya pun mereka diwajibkan memahami sejarah
     budaya yang ada di sekitar tempat mereka tinggal.”
W         : “Bagaimana tentang kesiapan ibu sebagai guru memasuki kurikulum 2013 ini?”
N          : “Siap tidak siap sih. Tapi mau bagaimana lagi. Ini kan sudah keputusan pemerintah.
     Sebenarnya disini juga guru-guru dipaksa untuk siap. Padahal, sampai saat ini saja belum
     diadakan pelatihan.”
W         : “Menurut pandangan ibu, apa saja kelebihan dari kurikulum yang baru ini?”
N          : “Kelebihannya, kurikulum ini sudah mulai mengikuti kurikulum di negara-negara
    yang memiliki kualitas pendidikan baik. Selain itu, disini pemerintah berkeinginan   
    membentuk generasi yang memiliki kualitas terbaik. Dan di SMA juga sudah diterapkan
    system peminatan yang akan langsung menjuruskan siswa ke bidang yang diminati siswa. 
    Seperti kuliah gitu.
W         : “Kira-kira apa saja kekurangan dari kurikulum ini?”

N          :  “Kalau kekurangannya, dengan adanya program peminatan di SMA, jumlah guru yang 
     mengajar harus ditambah. Dan sebenarnya ini tidak efektif. Karena misalnya saja, di kelas 
     X ada siswa yang awalnya tidak memilih pelajaran B.Inggris. Dan tiba-tiba dikelas XI-nya 
     dia memilih B.Inggris. Guru yang mengajar ya tentu saja bingung. Dengan adanya murid 
    baru, guru harus memutuskan mengulang dari awal, atau mengajar bahan baru.”
W         : “Seiring dengan berubahnya kurikulum, apakah ada kemungkinan berubahnya buku-buku 
                 pelajaran?”
N          : “Kemungkinan berubahnya buku ya pasti ada. Kan kurikulumnya juga berubah.”
W         : “Apakah yang sebenarnya diharapkan oleh pemerintah dengan berubahnya kurikulum?”
N          : “Pemerintah mengharapkan siswa yang kreatif. Bukan hanya siswanya yang kreatif. 
    Gurunya pun harus kreatif dalam mengajar. Disini juga diharapkan, siswa itu tidak lagi 
     menggunakan metode hafalan tapi lebih ke nalar. Ibu sempat membaca beberapa artikel. 
     Menurut survey, hanya 5% siswa Indonesia yang mampu mengerjakan soal yang 
     membutuhkan penalaran. Sebagai perbandingan, siswa di Korea yang sanggup 
    mengerjakannya mencapai 70%. Sebaliknya, jika mengerjakan soal yang menuntut hafalan     Indonesia jauh mengalahkan Korea.”
W         : “Apakah perubahan kurikulum ini nantinya akan membawa perubahan lebih baik bagi 
                 pendidikan bangsa?”
N          : “Yah, diharapkan bisa seperti itu. Tapi, untuk saat ini, kita hanya tinggal menunggu saja 
                  tanggal mainnya.”
W         : “Terima kasih atas informasinya,bu. Maaf sudah mengganggu waktu ibu.”
N          : “Sama-sama. Semoga informasinya bisa bermanfaat.”

 (Maaf kalau ada salah kata atau penulisan yang kurang tepat)





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar